fbpx

Ada Makna dan Filosofi Motif Tenun Aceh Yang Harus diketahui

Tempias air hujan masuk dari sela-sela dinding berkayu jerejak yang jarang. Dahlia mengibaskan bongkahan benang tenun yang tidak terpakai. Makna Filosofis Motif Tenun Aceh yang kerap menjadi pertanyaan para wisatawan yang datang ke Aceh untuk berwisata.

Dia duduk menceritakan kejayaan tenun Aceh dimasa lalu. Dalam usianya yang 53 tahun, Dahlia sudah tidak kuat lagi menenun. Dia hanya menerima orderan dari para pelanggan. Lalu meneruskan orderan tersebut kepada para penenun di kampungnya, Mukim Siem, Aceh Besar, Aceh.

Motif Tenun Aceh, kata dia, merupakan tenun tua yang sudah ada berabad-abad lalu. Tak hanya sekedar kerajinan tangan, motif-motif itu diciptakan untuk menjelaskan falsafah hidup masyarakat Aceh.

Dahlia adalah salah pewaris tenun Aceh yang masih ada di Mukim Siem. Dia menerima pelajaran motif tenun Aceh dari ibunya yang melegenda, Nyak Mu. Menurutnya, dari Nyak Mu-lah tenunan Aceh dikenal hingga ke berbagai pelosok negeri. Nyak Mu, kata Dahlia, mewariskan keahlian menenun dari neneknya. Sementara buyutnya itu, mendapat keahlian dari ibunya lagi.”Jadi saya ini sudah keturunan kelima. Sebelum itu, masyarakat Aceh tidak mengenal tenun. Kami orang Aceh hanya berpakaian serba hitam,” katanya.

Laila Abdul Jalil, peneliti senior dari Balai Sejarah dan Kepurbakalaan Aceh membenarkan Dahlia. Laila mengungkap, perkembangan tenun dimulai oleh masyarakat yang mendiami wilayah Aceh Besar, Aceh Barat, Pidie dan Aceh Selatan. Wilayah ini pada masa lampau merupakan bandar yang ramai dan menjadi tempat persinggahan para saudagar dari manca negara seperti Arab, Persia, Turki, Cina, India, dan Siam.

“Tapi Siem merupakan wilayah pertama yang mengembangkan tenun di Aceh,” tegasnya

Tenun Siem, kata Laila, terkenal karena memiliki berbagai variasi warna serta corak dan motif hiasnya yang atraktif. Jumlah motifnya lebih dari 50 dengan warna-warna cerah. Kain tenun Siem menggunakan bahan baku benang sutra sebagai bahan utama pembuat kain serta benang emas dan perak untuk membuat motif.

Motif tenun, lanjut Laila, diaplikasikan pada sehelai kain yang bukan hanya untuk hiasan, tapi juga mengandung makna yang filosofis. Ragam hias pada kain tenun juga menggambarkan keadaan lingkungan alam sekitar.

Di antara motif yang menarik adalah bungong kalimah (kaligrafi), bunga, buah, motif awan, tali air, dan geometris. Kaligrafi berisikan petikan ayat suci dari Al-quran, biasanya digunakan untuk selendang dan penutup kepala bagi perempuan.

“Ada juga motif bunga delima. Falsafahnya menarik karena delima digambarkan sebagai salah satu buah yang ada di surga,” jelas Laila.

Motif lainnya, kata Laila, merupakan motif-motif yang melambangkan kehidupan duniawi seperti motif daun sirih, pucuk rebung dan lainnya.

Sumber http://nationalgeographic.co.id (Syafrizaldi)

Sumber Gambar : acehdalamsejarah.blogspot.com

@iklan

promo di sofyan hotel cut meutia jakarta pusat

promo di sofyan hotel soepomo jakarta selatan

Sosial Media

Baca Juga :  Pariwisata Halal di Jepang
Menu